Showing posts with label Dunia tokoh. Show all posts
Showing posts with label Dunia tokoh. Show all posts

Thursday, May 12, 2011

100+3 Quote Iwan Fals


Kata-kata indah Iwan Fals ini merupakan kata dan kalimat yang ada dalam lirik lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals.
Selain kata bijak Iwan Fals, kata kata indah Iwan Fals ini juga benar benar rangkaian kalimat yang penuh dan sarat dengan makna, coba saja simak dan resapi kalimat yang termaksud didalamnya.

Berikut adalah sedikit yang sempat kami kumpulkan. Simak dan resapilah makna yang terkandung didalamnya. Semoga hari-hari kita menjadi lebih berguna.

100+3 Quote dalam Lirik Lagu Iwan Fals dkk
--------------------------------------------------------
1.“Berhentilah jangan salah gunakan, kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan”
(Puing – album Sarjana Muda 1981)

2.“Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu”.
(Bangunlah Putra-Putri Pertiwi – album Sarjana Muda 1981)

3."Cepatlah besar matahariku, menangis yang keras janganlah ragu, hantamlah sombongnya dunia buah hatiku, doa kami dinadimu”.
(Galang Rambu Anarki – album Opini 1982)

4.“Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh”.
(Maaf Cintaku - album Sugali 1984)

5.“Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari, bila luka di kaki belum terobati”.
(Berkacalah Jakarta - album Sugali 1984)

6.“Riak gelombang suatu rintangan, ingat itu pasti kan datang, karang tajam sepintas seram, usah gentar bersatu terjang”.
(Cik - album Sore Tugu Pancoran 1985)

7.“Aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti, entah”.
(Entah - album Ethiopia 1986)

8.“Mengapa bunga harus layu?, setelah kumbang dapatkan madu, mengapa kumbang harus ingkar?, setelah bunga tak lagi mekar”.
(Bunga-Bunga Kumbang-Kumbang - album Ethiopia 1986)

9.“Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah”.
(Ya Ya Ya Oh Ya - album Aku Sayang Kamu 1986)

10.“Dalam hari selalu ada kemungkinan, dalam hari pasti ada kesempatan”.
(Selamat Tinggal Malam - album Aku Sayang Kamu 1986)

--------------------------------------------------------

11.“Kota adalah hutan belantara akal kuat dan berakar, menjurai didepan mata siap menjerat leher kita”.
(Kota - album Aku Sayang Kamu 1986)

12.“Jangan kita berpangku tangan, teruskan hasil perjuangan dengan jalan apa saja yang pasti kita temukan”.
(Lancar - album Lancar 1987)

13.“Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam”.
(Surat Buat Wakil Rakyat - album Wakil Rakyat 1987)

14.“Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang, segala sesuatu ada harga karena uang”.
(Nak - album 1910 1988)

15.“Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli?, sampai nanti sampai habis terjual harga diri”.
(Mimpi Yang Terbeli - album 1910 1988)

16.“Seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu”.
(Ibu - album 1910 1988)

17.“Memang usia kita muda namun cinta soal hati, biar mereka bicara telinga kita terkunci”.
(Buku Ini Aku Pinjam - album 1910 1988)

18.“Dendam ada dimana mana di jantungku, di jantungmu, di jantung hari-hari”.
(Ada Lagi Yang Mati - album 1910 1988)

19.“Hangatkan tubuh di cerah pagi pada matahari, keringkan hati yang penuh tangis walau hanya sesaat”.
(Perempuan Malam - album Mata Dewa 1989)

20.“Kucoba berkaca pada jejak yang ada, ternyata aku sudah tertinggal, bahkan jauh tertinggal”.
(Nona - album Mata Dewa 1989)

--------------------------------------------------------

21.“Oh ya! ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku, oh ya! ya takdir, takdirmu jelas bukan takdirku”.
(Oh Ya! - album Swami 1989)

22.“Wahai kawan hei kawan, bangunlah dari tidurmu, masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama, buanglah mimpi-mimpi”.
(Eseks eseks udug udug (Nyanyian Ujung Gang) - album Swami 1989)

23.“Api revolusi, haruskah padam digantikan figur yang tak pasti?”.
(Condet - album Swami 1989)

24.“Kalau cinta sudah di buang, jangan harap keadilan akan datang”.
(Bongkar - album Swami 1989)

25.“Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan”.
(Bongkar - album Swami 1989)

26.“Orang tua pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta”.
(Bongkar - album Swami 1989)

27.“Satu luka perasaan, maki puji dan hinaan, tidak merubah sang jagoan menjadi makhluk picisan”.
(Rajawali - album Kantata Takwa 1990)

28.“Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata kata”.
(Paman Doblang - album Kantata Takwa 1990)

29.“Mereka yang pernah kalah, belum tentu menyerah”.
(Orang-Orang Kalah - album Kantata Takwa 1990)

30.“Aku rasa hidup tanpa jiwa, orang yang miskin ataupun kaya sama ganasnya terhadap harta”.
(Nocturno - album Kantata Takwa 1990)

--------------------------------------------------------

31.“Orang orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi”.
(Kesaksian - album Kantata Takwa 1990)

32.“Ingatlah Allah yang menciptakan, Allah tempatku berpegang dan bertawakal, Allah maha tinggi dan maha esa, Allah maha lembut”.
(Kantata Takwa - album Kantata Takwa 1990)

33.“Kebimbangan lahirkan gelisah, jiwa gelisah bagai halilintar”.
(Gelisah - album Kantata Takwa 1990)

34.“Bagaimanapun aku harus kembali, walau berat aku rasa kau mengerti”.
(Air Mata - album Kantata Takwa 1990)

35.“Alam semesta menerima perlakuan sia sia, diracun jalan napasnya diperkosa kesuburannya”.
(Untuk Bram - album Cikal 1991)

36.“Duhai langit, duhai bumi, duhai alam raya, kuserahkan ragaku padamu, duhai ada, duhai tiada, duhai cinta, ku percaya”.
(Pulang Kerja - album Cikal 1991)

37.“Dimana kehidupan disitulah jawaban”.
(Alam Malam - album Cikal 1991)

38.“Ada dan tak ada nyatanya ada”.
(Ada - album Cikal 1991)

39.“Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri”.
(Nyanyian Jiwa - album Swami Il 1991)

40.“Aku mau jujur jujur saja, bicara apa adanya, aku tak mau mengingkari hati nurani”.
(Hio - album Swami Il 1991)

--------------------------------------------------------

41.“Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta walau aku tahu tak terdengar, jariku menari tetap tak akan berhenti sampai wajah tak murung lagi”.
(Di Mata Air Tidak Ada Air Mata - album Belum Ada Judul 1992)

42.“Mengapa besar selalu menang?, bebas berbuat sewenang wenang, mengapa kecil selalu tersingkir?, harus mengalah dan menyingkir”.
(Besar Dan Kecil - album Belum Ada Judul 1992)

43.“Angin pagi dan nyanyian sekelompok anak muda mengusik ingatanku, aku ingat mimpiku, aku ingat harapan yang semakin hari semakin panjang tak berujung”.
(Aku Disini - album Belum Ada Judul 1992)

44.“Jalani hidup, tenang tenang tenanglah seperti karang”.
(Lagu Satu - album Hijau 1992)

45.“Sebentar lagi kita akan menjual air mata kita sendiri, karena air mata kita adalah air kehidupan”.
(Lagu Dua - album Hijau 1992)

46.“Kita harus mulai bekerja, persoalan begitu menantang, satu niat satulah darah kita, kamu adalah kamu aku adalah aku”.
(Lagu Tiga - album Hijau 1992)

47.“Kenapa kebenaran tak lagi dicari?, sudah tak pentingkah bagi manusia?”
(Lagu Empat- album Hijau 1992)

48.“Kenapa banyak orang ingin menang?, apakah itu hasil akhir kehidupan?”.
(Lagu Empat- album Hijau 1992)

49.“Anjingku menggonggong protes pada situasi, hatiku melolong protes pada kamu”.
(Lagu Lima - album Hijau 1992)

50.“Biar keadilan sulit terpenuhi, biar kedamaian sulit terpenuhi, kami berdiri menjaga dirimu”.
(Karena Kau Bunda Kami - album Dalbo 1993)

--------------------------------------------------------

51.“Apa jadinya jika mulut dilarang bicara?, apa jadinya jika mata dilarang melihat?, apa jadinya jika telinga dilarang mendengar?, jadilah robot tanpa nyawa yang hanya mengabdi pada perintah”.
(Hura Hura Huru Hara - album Dalbo 1993)

52.“Tertawa itu sehat, menipu itu jahat”.
(Hua Ha Ha - album Dalbo 1993)

53.“Nyanyian duka nyanyian suka, tarian duka tarian suka, apakah ada bedanya?”
(Terminal – single 1994)

54.“Waktu terus bergulir, kita akan pergi dan ditinggal pergi”.
(Satu Satu – album Orang Gila 1994)

55.“Pelan-pelan sayang kalau mulai bosan, jangan marah-marah nanti cepat mati, santai sajalah”.
(Menunggu Ditimbang Malah Muntah – album Orang Gila 1994)

56.“Mau insaf susah, desa sudah menjadi kota”.
(Menunggu Ditimbang Malah Muntah – album Orang Gila 1994)

57.“Pertemuan dan perpisahan, dimana awal akhirnya?, dimana bedanya?”.
(Doa Dalam Sunyi – album Orang Gila 1994)

58.“Jika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja”.
(Awang Awang – album Orang Gila 1994)

59.“Bagaimana bisa mengerti?, sedang kita belum berpikir, bagaimana bisa dianggap diam?, sedang kita belum bicara”.
(Awang Awang – album Orang Gila 1994)

60.“Aku bukan seperti nyamuk yang menghisap darahmu, aku manusia yang berbuat sesuai aturan dan keinginan”.
(Nasib Nyamuk – album Anak Wayang 1994)

--------------------------------------------------------

61.“Oh susahnya hidup, urusan hati belum selesai, rumah tetangga digusur raksasa, pengusaha zaman merdeka”.
(Oh – single 1995)

62.“Aku disampingmu begitu pasti, yang tak kumengerti masih saja terasa sepi”.
(Mata Hati – album Mata Hati 1995)

63.“Sang jari menari jangan berhenti, kupasrahkan diriku digenggaman-Mu”.
(Lagu Pemanjat – album Lagu Pemanjat 1996)

64.“Lepaslah belenggu ragu yang membelit hati, melangkah dengan pasti menuju gerbang baru”.
(Songsonglah – album Kantata Samsara 1998)

65.“Berani konsekuen pertanda jantan”.
(Nyanyian Preman – album Kantata Samsara 1998)

66.“Dengarlah suara bening dalam hatimu, biarlah nuranimu berbicara”.
(Langgam Lawu – album Kantata Samsara 1998)

67.“Matinya seorang penyaksi bukan matinya kesaksian”.
(Lagu Buat Penyaksi – album Kantata Samsara 1998)

68.“Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut, walau hati panas bahkan terbakar sekalipun”.
(Di Ujung Abad - album Suara Hati 2002)

69.“Jangan goyah percayalah teman perang itu melawan diri sendiri, selamat datang kemerdekaan kalau kita mampu menahan diri”.
(Dendam Damai - album Suara Hati 2002)

70.“Berdoalah sambil berusaha, agar hidup jadi tak sia-sia”.
(Doa - album Suara Hati 2002)
--------------------------------------------------------

71.“Harta dunia jadi penggoda, membuat miskin jiwa kita”.
(Seperti Matahari - album Suara Hati 2002)

72.“Memberi itu terangkan hati, seperti matahari yang menyinari bumi”.
(Seperti Matahari - album Suara Hati 2002)

73.“Jangan heran korupsi menjadi jadi, habis itulah yang diajarkan”.
(Politik Uang – album Manusia Setengah Dewa 2004)

74.“Gelombang cinta gelombang kesadaran merobek langit yang mendung, menyongsong hari esok yang lebih baik”.
(Para Tentara – album Manusia Setengah Dewa 2004)

75.“Terhadap yang benar saja sewenang wenang, apalagi yang salah”.
(Mungkin – album Manusia Setengah Dewa 2004)

76.“Begitu mudahnya nyawa melayang, padahal tanpa diundang pun kematian pasti datang”.
(Matahari Bulan Dan Bintang – album Manusia Setengah Dewa 2004)

77.“Dunia kita satu, kenapa kita tidak bersatu?”.
(Matahari Bulan Dan Bintang – album Manusia Setengah Dewa 2004)

78.“Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau”.
(Manusia Setengah Dewa – album Manusia Setengah Dewa 2004)

79.“Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung”.
(Desa – album Manusia Setengah Dewa 2004)

80.“Tutup lubang gali lubang falsafah hidup jaman sekarang”.
(Dan Orde Paling Baru – album Manusia Setengah Dewa 2004)

--------------------------------------------------------

81.“Buktikan buktikan!, kalau hanya omong burung beo pun bisa”.
(Buktikan – album Manusia Setengah Dewa 2004)

82.“Dunia politik dunia bintang, dunia hura hura para binatang”.
(Asik Nggak Asik – album Manusia Setengah Dewa 2004)

83.“Dewa-dewa kerjanya berpesta, sambil nyogok bangsa manusia”.
(17 Juli 1996 – album Manusia Setengah Dewa 2004)

84.“Tanam-tanam pohon kehidupan, siram siram sirami dengan sayang, tanam tanam tanam masa depan, benalu-benalu kita bersihkan”.
(Tanam-Tanam Siram-Siram – single 2006)

85.“Ada apa gerangan mengapa mesti tergesa gesa, tak bisakah tenang menikmati bulan penuh dan bintang”.
(Haruskah Pergi – 2006)

86.“Persoalan hidup kalau diikuti tak ada habisnya, soal lama pergi soal baru datang”.
(Selancar – 2006)

87.“Jaman berubah perilaku tak berubah, orang berubah tingkah laku tak berubah”.
(Rubah – album 50:50 2007)

88.“Satu hilang seribu terbilang, patah tumbuh hilang berganti”.
(Pulanglah – album 50:50 2007)

89.“Hidup ini indah berdua semua mudah, yakinlah melangkah jangan lagi gelisah”.
(KaSaCiMa – album 50:50 2007)

90.“Tak ada yang lepas dari kematian, tak ada yang bisa sembunyi dari kematian, pasti”.
(Ikan-Ikan – album 50:50 2007)

--------------------------------------------------------

91.“Ada kamu yang mengatur ini semua tapi rasanya percuma, ada juga yang janjikan indahnya surga tapi neraka terasa”.
(Cemburu – album 50:50 2007)

92.“Hukum alam berjalan menggilas ludah, hukum Tuhan katakan “Sabar!”.
(Kemarau – uncassette)

93.“Yang pasti hidup ini keras, tabahlah terimalah”.
(Joned – uncassette)

94.“Oh negeriku sayang bangkit kembali, jangan berkecil hati bangkit kembali”.
(Harapan Tak Boleh Mati – uncassette)

95.“Oh yang ditinggalkan tabahlah sayang, ini rahmat dari Tuhan kita juga pasti pulang”.
(Harapan Tak Boleh Mati – uncassette)

96.“Tuhan ampunilah kami, ampuni dosa-dosa kami, ampuni kesombongan kami, ampuni bangsa kami, terimalah disisi-Mu korban bencana ini”.
(Saat Minggu Masih Pagi – uncassette)

97.“Nyatakan saja apa yang terasa walau pahit biasanya, jangan disimpan jangan dipendam, merdekakan jiwa”.
(Nyatakan Saja – uncassette)

98.“Usiamu tak lagi muda untuk terus terusan terjajah, jangan lagi membungkuk bungkuk agar dunia mengakuimu”.
(Merdeka – uncassette)

99.“Kau paksa kami untuk menahan luka ini, sedangkan kau sendiri telah lupa”.
(Luka Lama – uncassette)

100. “Oh Tuhan tolonglah, lindungi kami dari kekhilafan, oh ya Tuhan tolonglah, Ramadhan mengetuk hati orang orang yang gila perang”.
(Selamat Tinggal Ramadhan – uncassette)

source : kaskus.us
----------------------------------------------------------------

+3

101. “Pion bingung nggak bisa mundur, pion-pion nggak mungkin kabur. Menteri, luncur, kuda dan benteng. Galaknya melebihi raja”.
(Asik Gak Asik - album Manusia Setengah Dewa 2004)

102. “Mari kita mogok menulis “BIARKAN INDONESIA TANPA KORAN”
(Biarkan Indonesia Tanpa Koran, tahun 1986)

103. “Kalau hanya senyum yang engaku berikan, Westerling pun tersenyum”.
(Pesawat Tempur - album 1910, tahun 1988)

Jenderal Soedirman


Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Bendera PETA
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Walaupun kurus kering digerogoti TBC, beliau tetap teguh menjalankan tugas dan amanat sebagai Panglima Besar Tentara.
Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Panglima Besar Jenderal Sudirman didampingi oleh Letnan Kolonel Suharto yang diutus untuk menjemput beliau setiba di Yogyakarta disambut oleh Kolonel Suhud pada bulan 10 Juli 1949
Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tinggal satu yang berfungsi.

Sejauh apa rute gerilya yang beliau jalani?
Sangat jauh, bahkan bagi orang sehat sekalipun. Medan yang dilalui pun sangat berat, antara lain perbukitan dan gunung-gunung karang yang curam dan minim air.

Jenderal Sudirman dan pasukannya melewati daerah membentang antara Yogyakarta, Panggang, Wonosari, Pracimantoro, Wonogiri, Purwantoro, Ponorogo, Sambit, Trenggalek, Bendorejo, Tulungagung, Kediri, Bajulan, Girimarto, Warungbung, Gunungtukul, Trenggalek (lagi), Panggul, Wonokarto dan Sobo (memimpin gerilya selama 3 bulan, 28 hari). Baru kemudian dari Sobo menuju Yogyakarta melewati Baturetno, Gajahmungkur, Pulo, Ponjong, Piyungan, Prambanan dan baru pada tanggal 10 Juli 1949 kembali lagi ke Yogyakarta. Dalam keadaan yang serba kekurangan dan kondisi fisik yang lemah Jenderal Sudirman terus dan terus berjuang tanpa kenal menyerah.

Perang gerilya yg dipimpin Jenderal Soedirman telah menjadi inspirasi sejarah Indonesia serta sumber pelajaran bagi perjalanan generasi sesudahnya, sekaligus gambaran nilai & semangat luhur perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.
Pemakaman Pak Dirman, 29 Januari 1950, hanya 1 bulan berselang setelah Pengakuan Kedaulatan RI.
Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

 Berikut Ini Data Lengkap Tentang Jendral Besar Soedirman
Nama: Jenderal Sudirman
Lahir: Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Meninggal: Magelang, 29 Januari 1950
Agama: Islam
Pendidikan Fomal:
- Sekolah Taman Siswa
- HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
Pendidikan Tentara: Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan: Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
Pengalaman Organisasi: Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer:
- Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
- Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
- Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan: Pahlawan Pembela Kemerdekaan
Meninggal: Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

10 nasehat Jenderal Soedirman

Jendral Soedirman, Pahlawan Besar kita (34 tahun)
1. Jogjakarta, 12 Nopember 1945
Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.

2. Jogjakarta, 1 Januari 1946
Tentara bukan merupakan suatu golongan diluar masyarakat, bukan suatu kasta yg berdiri diatas masyarakat. Tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.

3. Jogjakarta, 17 Pebruari 1946
Kami tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara.

4. Jogjakarta, 25 Mei 1946
Sanggup mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negara Republik Indonesia, yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, sampai titik darah penghabisan.

5. Jogjakarta, 27 Nopember 1946
Karena kewajiban kamulah untuk tetap pada pendirian semula, mempertahankan dan mengorbankan jiwa untuk kedaulatan negara dan bangsa kita seluruhnya.

6. Jogjakarta, 5 Oktober 1949
Pelihara TNI, pelihara angkatan perang kita. Jangan sampai TNI dikuasai oleh partai politik manapun juga.
Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang mudah dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.

7. Jogjakarta, Januari 1948
Bahwa kemerdekaan satu negara, yang didirikan diatas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.

8. Jogjakarta, 17 Agustus 1948
Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi.

9. Jogjakarta, 1 Agustus 1949
Bahwa satu-satunya hak milik nasional/republik yang masih utuh tidak berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala macam soal dan perubahan, hanyalah angkatan perang RepublikIndonesia (Tentara Nasional Indonesia)

10. Jogjakarta, 4 Oktober 1949
Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot.

Angkatan perang Republik Indonesia lahir di medan perjuangan kemerdekaan nasional. Ditengah-tengah dan dari revolusi rakyat dalam pergolakan membela kemerdekaan itu, karena itu angkatan perang Republik Indonesia adalah :
1. Tentara Nasional.
2. Tentara Rakyat.
3. Tentara Revolusi.

Esensinya adalah bahwa Prajurit TNI harus memiliki militansi sbb:
1. Memiliki keunggulan moral dan moril.
2. Pantang menyerah dan rela berkorban.
3. Senantiasa bersama-sama rakyat.

Patung Jendral Soedirman di halaman depan makam pahlawan Kusumanegara Yogyakarta tempat beliau dimakamkan.
Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman di halaman Monumen dan Museum PETA.
Monumen Jenderal Soedirman di  Surabaya
Nasehat-nasehat Jenderal Soedirman yang diabadikan dalam bentuk monumen.

Orang yang Kuat


M. Gandhi
Ada kekuatan di dalam cinta,
Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan,
Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri,
Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,
Orang yang sabar adalah orang yang kuat
Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,
Orang yang murah hati adalah orang yang kuat
Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,
Orang yang baik adalah orang yang kuat
Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
Orang yang setia adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi.

Ada kekuatan di dalam kelemah lembutan,
Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Sadarkah kau bahwa engkau juga memiliki cukup
Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini
Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga.
Karena cobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita.

KENAPA "MARIA OZAWA" DIPANGGIL "MIYABI"???

This summary is not available. Please click here to view the post.

Si Pitung



Sampai kapanpun, aku akan selalu memikirkan orang lain. Aku tidak tahu kenapa.. Aku ingin mengabdi pada masyarakat dengan caraku sendiri entah bagaimana caranya. Dengan cara yang kadang banyak orang tidak menyukainya dan menyadari apa yang telah aku lakukan..

Kisah Si Pitung menggambarkan sosok pendekar Jakarta dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa Hindia Belanda pada masa itu.
Kisah ini diyakini nyata keberadaannya oleh para tokoh masyarakat Betawi terutama di daerah Kampung Marunda di mana terdapat Rumah dan Masjid lama.

Sejarah

Pada dasarnya ada tiga versi yang tersebar di masyarakat mengenai si Pitung yaitu versi Indonesia, Belanda, dan Cina. Masing-masing penutur versi cerita tersebut memiliki versi yang berbeda dari cerita si Pitung itu sendiri. Apakah Si Pitung sebagai seorang pahlawan berdasasrkan versi cerita Indonesia, dan sebagai seorang penjahat jika dilihat dari versi Belanda. Cerita Si Pitung ini dituturkan oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini dan menjadi bagian lengenda serta warisan budaya Betawi khususnya dan Indonesia umumnya. Kisah Legenda Si Pitung ini kadang-kadang dituturkan menjadi rancak (sejenis balada), sair, atau cerita Lenong. Menurut versi Koesasi (1992), Si Pitung di identikan dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang shaleh, dan menjadi contoh suatu keadilan sosial.

Tempat Lahir
Si Pitung lahir di daerah Pengumben sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bung Piung dan ibunya bernama Mbak Pinah. Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin (seorang pedagang kambing). Seperti yang dikisahkan dalam film Si Pitung (1970).

Rumah Si Pitung. Foto ANTARA/Widodo S. Jusuf (15/1/2010)
Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, yang terletak di tepi pantai Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara ini konon dibangun hanya dalam tempo semalam. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, di antaranya Si Pitung. “Tidak hanya tentara Demak, tapi juga Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan.”
Nama Asli Si Pitung
Si Pitung merupakan nama panggilan asal kata dari Bahasa Jawa Pituan Pitulung (Kelompok Tujuh), kemudian nama panggilan ini menjadi Pitung. Nama asli Si Pitung sendiri adalah Salihun (Salihoen).

Awal Legenda
Menurut versi van Till(1996) Si Pitung merupakan seorang kriminal, yang diawali ketika Si Pitung menjual kambing di pasar Tanah Abang, kemudian dicuri oleh para “centeng” (Si Gomar menurut versi Film Si Pitung (1970) tuan tanah. Sebagai tindakan balasan kemudian Pitung melakukan pencurian di tempat Haji Saipudin seorang kaya Juragan Tuan Tanah di Marunda pada waktu itu (Rumah Haji Saipudin sekarang menjadi tempat Musium Si Pitung). Legenda yang di kisahkan dalam film Si Pitung, Si Pitung dan Kawanan-nya menggunakan cara yang “pintar” dengan menyamar sebagai pegawai Pemerintah Belanda (Di Versi Film Si Pitung, Pitung sebagai "Demang Mester Cornelis (Wilayah Mester Cornelis saat ini disebut sebagai Jatinegara merupakan bagian dari Kota Jakarta Timur") dan Dji-ih sebagai “Opas”). Kemudian melakukan penipuan dengan memberikan surat kepada Haji Saipudin agar Haji Saipudin menyimpan uang di tempat Demang Mester Cornelis. Pitung menyatakan bahwa uang tersebut dalam pengawasan pencurian. Haji Saipudin setuju kemudian Pitung dan Kelompoknya membawa lari uang tersebut.
Akibat dari hal ini kemudian Si Pitung dan Kawanannya menjadi buronan “kompenie”. Hal ini menarik perhatian komisaris polisi yang bernama Heyne (“Schout Heyne, atau Heijna, Scothena, atau “Tuan Sekotena”). Secara resmi menurut van Till (1996) nama petugas polisi pada saat ini bernama A.W.V. Hinne yang pernah bertugas di Batavia dari tahun 1888 - 1912. (Menurut catatan kepolisis Belanda. Hinne memulai karier sebagai pegawai klerikal Pemerintah Belnda, kemudian menjadi Deputi Kehutanan, dan Polisi di beragam tempat di Indonesia. Hinne menderita sakit yang serius, sesudah dikembalikan ke Eropa untuk penyembuhan. Pada akhir tahun 1880 Hinne menjadi seorang Perwira Polisi di Batavia (Stambock van Burgerlijke Ambtenaren in Nederlandsch-Indie en Gouvernements Marine, ARA (Aigemeen Rijksarchief), Den Haag, register T.f. 274). Hinne segera memburu Si Pitung dengan membabi buta. Akhirnya dia dapat menangkap Pitung, tetapi kemudian Si Pitung berhasil melarikan diri dari tahanan ka-Demangan Meester Cornelis. Van Till (1996) menyatakan bahwa Si Pitung mampu bebas dengan kekuatan “magis” tetapi menurut versi Film Si Pitung (1970), Si Pitung lepas dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam.
Kemudian Hinne menekan Haji Naipin (Guru Si Pitung) untuk membuka rahasia kesaktian si Pitung berupa “jimat” sehingga Hinne dapat menangkap Si Pitung secara lebih cepat. Versi lainya menyatakan bahwa Pitung dikhianati oleh temannya sendiri (kecuali Dji-ih) walaupun versi ini diiragukan kebenarannya. Tetapi menurut Versi Film Si Pitung Banteng Betawi (1971) dikhianati oleh Somad yang memberi tahukan kelemahan Pitung untuk mengambil “jimatnya”. Kisah lainnya menyatakan bahwa Pitung telah diambil “Jimat Keris”-nya sehingga kesaktiannya menjadi lemah. Versi lainnya mengatakan bahwa kesaktian Pitung hilang setelah dipotong rambut, dan juga versi lain mengatakan bahwa kesaktiannya hilang karena sesorang melemparkan telur. Akhirnya Pitung meninggal karena luka tembak Hinne (Berdasarkan versi Film Si Pitung, Pitung mati tertembak karena peluru emas). Sesudah Si Pitung meninggal, makamnya dijaga oleh tentara karena percaya bahwa Si Pitung akan bangkit dari kubur hal ini tersirat dari Rancak Si Pitung dalam Van Till (1996):
Si Pitung sudah mati dibilangin sama sanak sudaranya
Digotong di Kerekot Penjaringan kuburannya
Saya tau orang rumah sakit nyang bilangin
Aer keras ucusnya dikeringin
Waktu dikubur pulisi pade iringin
Jago nama Pitung kuburannya digadangin
Yang gadangin kuburannya Pitung dari sore ampe pagi
Kalo belon aplusan kaga ada nyang boleh pegi
Sebab yang gadangin waktu itu sampe pagi
Kabarnya jago Pitung dalam kuburan idup lagi
Yang gali orang rante mengaku paye
Belencong pacul itu waktu suda sedie
Lantaran digali Tuan Besar kurang percaye
Dilongok dikeker bangkenye masi die
Memang waktu itu bangke Pitung diliat uda nyata
Dicitak di kantor, koran kantor berita
Ancur rumuk tulang iganya, bekas kena senjata
Nama Pitung suda mati Tuan Hena ke Tomang bikin pesta
Pesta itu waktu keiewat ramenye
Segala permaenan kaga larangannya
Tuju ari tuju malem pesta permisiannya
Sengaja bikin pesta mau tangkep kawan-kawannya
Nama Pitung mau ditangkep kawan-kawannya

Pitung Robin Hood ala Betawi
Menurut Damardini (1993:148) dalam Van Till (1996):
Pitung memang perampok. Mungkin saja Haji Samsudin dipukuli ketika itu. Kalau menurut istilah sekarang, Pitung itu pengacau, dan dicari oleh Pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras orang-orang kaya. Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat miskin. Namun sebenarnya tidak. Tidak ada perampok yang rela membagi hasil rampokannya dengan cuma-cuma, bukan? Menurut kabar, Pitung menyumbangkan uangnya pada mesjid-mesjid. Saat itu mesjid hanya ada di Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah. Tidak ada bukti bahwa Pitung mendermakan uangnya di sana.'
Pitung menjadi karakter sebagai Robin Hood versi Betawi dikembangkan oleh Lukman Karmani (Till, 1996).Karmani menulis novel Si Pitung, novel ini dikisahkan bahwa Si Pitung sebagai pahlawan sosial. Menurut Rahmat Ali (1993).
'Pitung sebagai tokoh kisah Betawi masa lampau memang dikenal sebagai perampok, tetapi hasil rampokan itu digunakan untuk menolong orang-orang yang menderita. Dia adalah Robin Hood Indonesia. Walaupun demikian pihak yang berwenang tidak memberikan toleransi, orang yang bersalah harus tetap diberi hukuman yang setimpal' (Rahmat Ali 1993:7)
Beragam pro dan kontra banyak menyelubungi di balik kisah legenda Si Pitung ini, tetapi pada dasarnya bahwa tokoh Si Pitung adalah cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh "Orang Betawi" terhadap penguasa pada saat itu yaitu Belanda. Apakah hal ini dipertanyakan valid atau tidaknya, kisah Si Pitung begitu harum didengar dari generasi ke generasi oleh masyarakat Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari belenggu penjajah. Hal ini ditunjukkan dari Rancak Pitung diatas bagaimana Si Pitung begitu ditakuti oleh pemerintah Belanda pada saat itu.

Kisah Nyata Si Pitung
Berdasarkan penelusuran van Till (1996) berdasarkan Hindia Olanda 22-11-1892 (Koran Terbitan Malaya (Malaysia pada saat ini)). Pada tahun 1892 SI Pitung dikenal pada sebagai “One Bitoeng”, “Pitang", kemudian menjadi “Si Pitoeng” (Hindia Olanda 28-6-1892:3; 26-8-1892:2). Laporan pertama dari surat kabar ini menunjukkan bahwa schout Tanah Abang mencari rumah “One Bitoeng” di Sukabumi. Dari hasil penemuannya ditemukan Jas Hitam, Seragam Polisi dan Topi, serta beberapa perlengkapan lainnya yang digunakan untuk mencuri kampung (Hindia Olanda, 28-6-1892:2).Kemudian sebulan kemudian polisi menggeledah rumahnya kembali dan ditemukan uang sebesar 125 gulden. Hal ini diduga uang curian dari Nyonya De C dan Haji Saipudin seorang Bugis dari Marunda (Hindia Olanda 10-8-1892:2;2; 26-8-1892:2). Kemudian Si Pitung menggunakan senjata untuk mencuri pada tanggal 30 Juli 1892, ketika itu Si Pitung dan lima kawanannya (Abdoelrachman, Moedjeran, Merais, Dji-ih, dan Gering) menerobos rumah Haji Saipudin dengan mengancam bahwa Haji Saipudin akan ditembak.
Pada tahun 1892 Pitung dan kawanannya ditangkap oleh polisi sesudah adanya nasihat dari Kepala Kampung Kebayoran yang menerima 50 ringgit (Hindia Olanda 26-8-1892:2) untuk menangkap Si Pitung. Setelah ditangkap, kurang dari setahun kemudian pada musim semi 1893, Pitung dan Dji-ih menrencanakan kabur dengan cara yang misterius dari tahanan Meester Cornelis. Sebuah investigasi kemudian dilakukan oleh Asisten Residen sendiri, tetapi tidak berhasil, karena kejadian tersebut Kepala Penjara dicurigai karena dimungkinkan melepaskan si Pitung dan Dji-ih. Akhirnya seseorang Petugas Penjara mengakui bahwa dia meminjamkan sebuah "belincong (sejenis linggis pencungkil)” kepada Si Pitung, yang kemudian digunakan untuk membongkar atap dan mendaki dinding (Hindia Olanda, 25-4-1893:3; Lokomotief 25-4 1893:2).
Akibat, Si Pitung lepas lagi, berdasarkan rumor Pitung pernah menampakkan diri ke seorang wanita di sebuah perahu dengan nama Prasman. Detektif mencoba mencari di kapal tersebut Hindia Olanda, 12-5-1893:3), tetapi hasilnya Pitung tidak dapat ditemukan. Semakin sulitnya menemukan Si Pitung, harga untuk penangkapan Si Pitung menjadi meningkat sebesar 400 Gulden. Pemerintah Belanda pada saat itu ingin "menembak mati" di tempat , tetapi sebagian pejabat mengatakan jika Pitung ditembak justru akan menumbuhkan semangat patriotik, sehingga niat ini diurungkan oleh kepolisian Batavia untuk menembak ditempat walaupun pada akhirnya hal ini dilakukan juga.
Sebagai tindakan balas dendam, Pitung melakukan pencurian secara kekerasan termasuk dengan menggunakan sejata api. Akhirnya Pitung dan Dji-ih membunuh seorang polisi intel yang bernama Djeram Latip (Hindia Olanda 23-9-1893:2). Dia juga mencuri wanita pribumi, Mie dan termasuk pakaian laki-laki serta pistol revolver dengan pelurunya. Pernyataan ini didukung oleh Nyonya De C seorang wanita pedagang di Kali Besar bahwa Pitung mencuri sarung yang bernilai ratusan Gulden dari perahu-nya (Hindia Olanda 22-11-1892:2).

Selanjutnya Dji-ih ditangkap kembali di kampung halamannya, karena menderita sakit. Dji-ih pulang ke kampung halamannya untuk pengobatan. Kemudian dia pindah ke rumah orang tua yang dikenal. Kepala kampung pada saat itu (Djoeragan) melaporkannya ke Demang kemudian memerintahkan tentara untuk menangkap Dji-ih dirumahnya. Karena dia terlalu sakit, dia tidak berdaya untuk melawan, walaupun pistol dalam jangkauannya. (Hindia Olanda 19-8-1893:2). Dia menyerah tanpa perlawanan. Untuk menutupi hal ini kemudian Pemerintah Belanda melansir di Java-Bode (15-8-1893:2) bahwa Dji-ih kabur ke Singapura. Informan yang bertanggungjawab melaporkan Dji-ih kemudian ditembak mati oleh Pitung di suatu tempat yang jauh dari Batavia beberapa minggu kemudian.
Pernyataan surat kabar Hindia Olanda yang menyatakan si informan mati dibunuh oleh Pitung,
“'Itoe djoeragan koetika ketemoe Si Pitoeng betoelan tempat sepi troes. Si djoeragan menjikip pada Si Pitoeng dan dari tjipetnja Si Pitoeng troes ambil pestolnja dari pinjang, lantas tembak si djoeragan itoe menjadi mati itoe tempat djoega.' (Hindia Olanda 1-9-1893:2.)
Beberapa bulan kemudian, di Bulan Oktober, Kepala Polisi Hinne mempelajari dari informan bahwa Pitung terlihat di Kampung Bambu, kampung diantara Tanjung Priok dan Meester Cornelis. Kemudian dalam perajalanannya Hinne diberikan laporan bahwa Pitung telah pindah ke arah pekuburan di Tanah Abang (Hindia Olanda 18-10-1893), kemudian Hinne menembaknya dalan penyergapan itu. Pitung ditembak di tangan, kemudian Pitung membalasnya. Kemudian Hinne menembak kedua kalinya, tetapi, meleset, dan peluru ketiga mengenai dada dan membuatnya terjerembap di tanah. Sehari sesudah kematiannya yaitu hari Senin, jenazah dibawa ke pemakaman Kampung Baru pada jam 5 sore.
Setelah Hinne menangkap Pitung setahun kemudian dia dipromosikan menjadi Kepala Polisi Distrik Tanah Abang untuk mengawasi seluruh Metropolitan Batavia-Weltevreden. Setelah kejadian tersebut Pemerintah Hindia Belanda melakukan pencegahan agar "Pitung"-"Pitung" yang lain tidak terjadi lagi di Batavia. Bahkan karena ketakutannya makam Si Pitung setelah kematiannya, dijaga oleh Pemerintah Belanda agar tidak di ziarahi oleh masyarakat pada waktu itu.


Kesaktian dan Kematian Si Pitung
Berdasarkan cerita legenda, Si Pitung dapat dibunuh oleh Belanda dengan beragam argumen tersebut diatas. Menurut Hindia Olanda (18-10-1893:2) sebelum ditangkap Pitung dalam keadaan rambut terpotong beberapa jam sebelum kematiannya pada hari Sabtu. Seperti yang diceritrakan oleh legenda bahwa kesaktian Si Pitung hilang akibat jimat-nya diambil orang (Versi Film Si Pitung Banteng Betawi), tetapi yang menarik versi lain menyatakan, bahwa Si Pitung dapat di-"lemahkan" jika dipotong rambut-nya. Berdasarkan koran Hidia Olanda tersebut dikatakan bahwa sebelum kematiannya Si Pitung telah dipotong rambutnya.

Film

  • Si Pitung (1970)
  • Si Pitung Banteng Betawi (1971)
  • Pembalasan Si Pitung

Catatan

  • si pitung adalah hero of betawi yang artinya (pahlawan betawi)

Referensi

  • Margereet Van Till, 1996, In Search of Si Pitung, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 152, no: 3, Leiden, 461-482)
  • Basoeki Koesasi, 1992, Lenong dan SI Pitung, Centre of Southeast Studies-Australian National University.
  • Palupi Damardini , 1993, Cerita Si Pitung Sebagai Sastra Lisan: Analisis Terhadap Struktur Cerita, Tesis Master, Fakultas Sastra Universitas Indonesia)
  • Rahmat Ali, 1993, Cerita Rakyat Betawi I, Jakarta: PT Gramedia Widiasarana

Kata Kata Bijak Sang Buddha

 

Sunlight

Kedamaian berasal dari dalam batin, Jangan mencarinya di luar, Kamu tidak akan menemukannya.

Peace comes from within. Do not seek it without.

memoriamTinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamaian batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Tidak iri maupun serakah, tanpa menjadi budak hawa nafsu dan tidak terseret dalam segala situasi, itulah cara hidup mulia.

Being neither jealous nor greedy, being without desires, and remaining the same under all circumstances, this is nobility.

20_11_2008Jangan berpengeluaran lebih dari apa yang kamu punya, juga jangan cemburu dengan penghasilan orang lain. Mereka yang cemburu tidak akan pernah merasakan kedamaian.

Do not overestimate what you have received, nor ever envy others. He who envies others does not obtain peace of mind.
One

Mereka yang telah merasakan manisnya kesendirian dan keheningan menjadi bebas dari rasa takut dan dosa.

He who has tasted the sweetness of solitude and tranquility becomes free from fear and free from sin.

Tuesday, May 10, 2011

profil Valentino Rossi


Valentino Rossi, (born February 16, 1979 in Urbino), is an Italian professional motorcycle racer and multiple MotoGP World Champion. He is one of the most successful motorcycle racers of all time, with nine Grand Prix World Championships to his name – a record seven of which are in the premier class.

Following his father, Graziano Rossi, Rossi started racing in Grand Prix in 1996 for Aprilia in the 125cc category and won his first World Championship the following year. From there, he moved up to the 250cc category with Aprilia and won the 250cc World Championship in 1999. He won the 500cc World Championship with Honda in 2001, the MotoGP World Championships (also with Honda) in 2002 and 2003, and continued his streak of back-to-back championships by winning the 2004 and 2005 titles after leaving Honda to join Yamaha, before regaining the title in 2008 and retaining it in 2009. He left Yamaha to join Ducati for the 2011 season.

Rossi is first in all time 500 cc/MotoGP race wins standings, with 79 victories, and second in all time overall wins standings with 105 race wins (behind Giacomo Agostini with 122).

The early years or the vs. Yao years

Valentino Rossi was born in Urbino, and he was still a child when the family moved to Tavullia. Son of Graziano Rossi, a former motorcycle racer, he first began riding at a very young age. Rossi's first racing love was go-karts. Fuelled by his mother, Stefania's, concern for her son's safety, Graziano purchased a go-kart as substitute for the bike. However, the Rossi family trait of perpetually wanting to go faster prompted a redesign; Graziano replaced the 60cc motor with a 100cc national kart motor for his then 5-year-old son.

Rossi won the regional kart championship in 1990. After this he took up minimoto and before the end of 1991 had won numerous regional races.

Rossi continued to race karts and finished fifth at the national kart championships in Parma. Both Valentino and Graziano had started looking at moving into the Italian 100cc series, as well as the corresponding European series, which most likely would have pushed him into the direction of Formula One. However, the high cost of racing karts led to the decision to race minimoto exclusively. Through 1992 and 1993, Valentino continued to learn the ins and outs of minimoto racing.

In 1993, with help from his father, Virginio Ferrari, Claudio Castiglioni and Claudio Lusuardi (who ran the official Cagiva Sport Production team), he rode a Cagiva Mito 125cc motorcycle, which he damaged in a first-corner crash no more than a hundred metres from the pit lane. He finished ninth that race weekend.

Although his first season in the Italian Sport Production Championship was varied, he achieved a pole position in the season's final race at Misano, where he would ultimately finish on the podium. By the second year, Rossi had been provided with a factory Mito by Lusuardi and won the Italian title.

125cc, 250 cc and 500 cc World Championships

In 1994, Aprilia by way of Sandroni, used Rossi to improve its RS125R and in turn allowed him to learn how to handle the fast new pace of 125cc racing. At first he found himself on a Sandroni in the 1994 Italian championship and continued to ride it through the 1995 European and Italian championships.

Rossi had some success in the 1996 World Championship season, failing to finish five of the season's races and crashing several times. Despite this, in August he won his first World Championship Grand Prix at Brno in the Czech Republic on an AGV Aprilia RS125R. He finished the season in ninth position and proceeded to dominate the 125cc World Championship in the following 1997 season, winning 11 of the 15 races.

By 1998, the Aprilia RS250 was reaching its pinnacle and had a team of riders in Valentino Rossi, Loris Capirossi and Tetsuya Harada. The death of two of his friends in a car accident also took a toll. He later concluded the 1998 250cc season in second place, only three points behind Capirossi. In 1999, however, he won the title, collecting 5 pole positions and 9 wins.

Rossi was rewarded in 2000 for his 250cc World Championship by being given a ride with Honda in what was then the ultimate class in World Championship motorcycle racing, 500cc. Jeremy Burgess had shown him the NSR500 and was convinced that the pairing of it with Rossi would bring nothing but success. Retired 500cc World Champion Michael Doohan, who also had Jeremy Burgess as chief engineer, worked with Rossi as his personal mentor in his first year at Honda. It would also be the first time Rossi would be racing against Max Biaggi, another Italian to whom he was often compared by the racing press. It would take nine races before Rossi would win on the Honda but, like his previous seasons in 125 and 250, it would bode well for a stronger second season as he finished second to American Kenny Roberts, Jr..

Rossi won his first 500cc World Championship in 2001 (winning 11 races) in the final year of that class. In the following year, 500cc two-strokes were still allowed, but 2002 saw the beginning of the 990cc four-stroke Moto GP class, after which the 500cc machines were essentially obsolete. In 2001 Rossi teamed up with American rider Colin Edwards for the Suzuka 8 Hours endurance race aboard a Honda VTR1000SPW. The pair won the race despite Rossi's lack of experience racing superbikes.

MotoGP: Honda

The inaugural year for the MotoGP bikes was 2002, when riders experienced teething problems getting used to the new bikes. Rossi won the first race and went on to win eight of the first nine races of the season, eventually claiming 11 victories in total.

It was more of the same in 2003 for Rossi's rivals when he claimed nine pole positions as well as nine GP wins to claim his third consecutive World Championship. The Australian GP at Phillip Island in 2003 is considered by many observers to be one of Rossi's greatest career moments due to unique circumstances. After being given a 10-second penalty for overtaking during a yellow flag due to a crash by Ducati rider Troy Bayliss, front runner Rossi proceeded to pull away from the rest of the field, eventually finishing more than 15 seconds ahead, more than enough to cancel out the penalty and win the race.

From Honda to Yamaha

There was much speculation during the second half of the 2003 season about Rossi's plans for the future. Some people suspected that he would succeed in his bid to claim a third consecutive title and wondered where he would go in the future. His contract with Honda was up at the end of the year and there were rumours that Rossi had become somewhat disillusioned with his ride at Honda. His tenure at Honda had effectively run its course; he had provided Honda with a 500 cc World Championship as well as consecutive MotoGP World Championships.

Partnered with increased scepticism that the reason for his success was the dominance of the RC211V rather than Rossi, it was inevitable that Honda and Rossi would part. Mid-season rumours pointed towards a possible move to Ducati, which sent the Italian press into a frenzy; the concept of the great Italian on the great Italian bike seemed too good to be true. Ducati did indeed try to seduce Rossi into riding their MotoGP bike, the Desmosedici, but for numerous reasons Rossi passed the offer up. Critics say that compared to the other manufacturers, Ducati had a significant way to go before being competitive even with Rossi at the helm. This proved to be the truth with Ducati's lacklustre performance in the 2004 season, which had actually been worse than their inaugural year in MotoGP in 2003.

In his 2005 autobiography, "What If I'd Never Tried It?", Rossi offers another reason for choosing Yamaha over Ducati, saying that the mindset at Ducati Corse was a little too similar to the one he was trying to escape from at Honda.

Ultimately, Rossi signed a two-year contract with rivals Yamaha reportedly worth in excess of (U.S) $12 million; a price no other manufacturer, even Honda, was willing to pay.

MotoGP: Yamaha

Many believed Rossi would not win another championship on a less competitive Yamaha bike, but Rossi proved them wrong. Having taken chief engineer Jeremy Burgess with him, Valentino was to look forward to many positive things.

With the traditional first race of the season at Suzuka off the list due to safety considerations following the fatal accident of Daijiro Kato, the 2004 season started at Welkom in South Africa. Rossi won the race, becoming the only rider to win consecutive races with different manufacturers, having won the final race of the previous season on the Honda. Rossi would go on to win eight more GPs in the season, primarily battling Sete Gibernau, with Rossi clinching the championship at the penultimate race of the season at Phillip Island. Rossi ended the season with 304 points to Gibernau's 257, with Max Biaggi 3rd with 217 points.

In 2005 Grand Prix motorcycle racing season, Rossi captured his 7th World Championship and 5th straight MotoGP Championship. He finished with a total of 367 points, 147 points ahead of 2nd place finisher Marco Melandri (220 points), and Nicky Hayden finishing 3rd with 206 points.

The 2006 MotoGP season started off with Rossi, once again, being the favorite to take the Championship, but he had trouble in the first half of the season. Hayden held the points lead throughout most of the season, but Rossi was slowly working his way up the points ladder. It was not until Motegi when Rossi finally grabbed 2nd in the points race behind Hayden. In the Portuguese Grand Prix, the penultimate race of the season, Hayden was taken out by his teammate, Dani Pedrosa, and did not finish the race. This led to Rossi taking the points lead with only one race left in the season. However, Rossi crashed early in Valencia, the last race, and Hayden went on to win the 2006 MotoGP Championship. Rossi finished the season in 2nd place.

Rossi returned to MotoGP for the 2007 season riding the new Yamaha YZR-M1 800 cc. In the first race in Qatar he came second to Casey Stoner on the Ducati Desmosedici. In the second round of the season Rossi won the second race of the season in Spain, and would win 3 more races that season. Stoner dominated the season, winning 10 races to take his first title, 125 points clear of second place Dani Pedrosa. Pedrosa’s win in the last race at Valencia combined with Rossi’s retirement meant that he beat Rossi into third place by a single point. This was Rossi’s lowest championship position since his first season in 1996 in 125s. His bike lacked competitiveness, particularly in top speed compared to the Honda or Ducati, and he threatened to leave Yamaha if they are unable to deliver a better package.

For 2008 Rossi changed to Bridgestone tyres. The season started slowly with a fifth place finish in Qatar, but he took his first win in Shanghai, and also won the next two races. From that race, Rossi was on the podium of every remaining race (except the Dutch round at Assen, where he crashed on the first lap and finished 11th), winning a total of nine races in the season. His victories at Laguna Seca (after a pass down the “Corkscrew” corner over Stoner, who crashed but continued and took the second place) and at a rain-shortened race in Indianapolis, meant that Rossi has won in every current circuit in the calendar. His win in Motegi was his first victory there on a MotoGP bike. The victory at Motegi won Rossi his first 800cc MotoGP title, his sixth in premier category, and eighth overall.

On June 8, 2009, Valentino Rossi rode a Yamaha around the famous Isle of Man TT Course in an exhibition lap along-side fellow Italian motorcycle legend Giacomo Agostini, in what was called 'The Lap of the Gods'.





The 2009 season saw Rossi win 6 races to win his 9th championship title, beating his team-mate Jorge Lorenzo into second place by 45 points. 6 wins was the lowest number of wins Rossi has had in a championship winning season; the previous lowest was 9 in 1999 in the 250 cc class and 2003, 2004 and 2008 in MotoGP.

His victory at the 2009 Dutch TT in Assen was Rossi's 100th victory, becoming only the second rider in motorcycle grand prix history to reach 100 wins.

The 2010 season began with Rossi topping most of all pre-season testing sessions and took victory in the first race of the season in Qatar, after early leader Casey Stoner crashed out. Rossi injured his shoulder and back while training on a motocross bike after the Japanese Grand Prix was postponed to October due to the disruption to air travel after the second eruption of the Eyjafjallajökull volcano in Iceland. The following two rounds Rossi was beaten by team-mate Lorenzo with Rossi complaining about shoulder pain. The injury was not taken seriously initially and was expected to cure in a few weeks, but did not turn out as expected and the ligament tear in the shoulder failed to sufficiently heal.

On 5 June 2010 at his home race at Mugello, Rossi crashed in the second free practice session, around the Biondetti corner, at around 120 mph (190 km/h). Rossi suffered a displaced compound fracture of his right tibia, and after post-surgical care close to his home in the hospital at Cattolica, it was diagnosed that he was likely to be out for most of the season. It was the first time that Rossi had missed a race in his Grand Prix career. However ahead of the British Grand Prix, Suzi Perry reported in her Daily Telegraph column that Rossi was planning on making a comeback at Brno. This was confirmed a week later by Rossi himself. On 7 July, Rossi rode at Misano on a Superbike World Championship-specification Yamaha YZF-R1 provided by the Yamaha World Superbike Team to test his leg's recovery. He completed 26 laps during two runs, with a best lap time that was around two seconds off the pace of recent World Superbike times at the circuit. At the conclusion of the session, Rossi complained of discomfort, reporting pain in both his leg and his shoulder. On 12 July, Rossi took part in another test at Brno, after which Rossi stated he was happier and a lot more in form. After an observation by the Chief Medical Officer on the Thursday before the weekend, Rossi made his return at the German Grand Prix, two rounds earlier than predicted and only 41 days after the accident. He managed to end the race in fourth place after a battle with Casey Stoner for third. He added another race victory to his name at Sepang, Malaysia on his way to collecting 10 podiums throughout the whole season, including five podiums in a row in the final run in of the season, where he finished third in the overall standings.

MotoGP: Ducati

On 15 August 2010, after the Brno race, Rossi confirmed he would ride for Ducati Corse, signing a two year deal starting in 2011, joining former Honda team-mate Nicky Hayden in the team. He tested the Desmosedici for the first time in Valencia on 9 November 2010, making his first appearance since 1999, on an Italian motorcycle. Rossi underwent surgery on his shoulder which he injured during the 2010 season, in order to be ready for preseason testing in Malaysia. After original progress during the first test, the Ducati failed to meet the team's expectations at the second Malaysian test and left Rossi unsatisfied, having finished over 1.8 seconds behind Casey Stoner's pace-setting Honda.

Competition

Earlier in his career Max Biaggi was considered Rossi's main rival. At one time his website did not even have Max's name; instead a glaring "XXX XXXXXX" was placed wherever his name should have appeared. Although they had not even raced against each other until 2000, the rivalry between the two had been growing since the mid-'90s. The rivalry died down as Rossi's consecutive World Championships and Biaggi's struggle to find support and a consistent rhythm with his races.

In his autobiography "What If I Had Never Tried It", Rossi makes a number of claims about the reasons for his rivalry with Biaggi, and some of the incidents which led to its escalation. The rivalry was also featured in the 2003 documentary film, Faster.

Rossi's closest rival in the 2003 and 2004 seasons was Sete Gibernau, riding with Team Gresini's Movistar Honda team on a satellite RC211V in 2004 and then on an all but in name factory RC211V, which Gibernau helped to develop, in 2005. Initially they were quite friendly in the paddock and off – Gibernau partied on occasions with Rossi at the Italian's Ibiza villa – but a souring in their relationship began in the 2004 season and culminated in the "Qatar Incident" that same season when Rossi's team was penalized for "cleaning" his grid position to aid in traction, along with Honda Pons' Max Biaggi, and both riders were subsequently forced to start from the back of the grid. A number of teams, including Gibernau's Team Gresini and the official Repsol Honda factory team, appealed successfully to race direction for Rossi to be sanctioned. Rossi and his chief mechanic, Jeremy Burgess, insisted that they were doing nothing more than what many others had done before when faced with a dirty track


Since then the two have not spoken and Rossi seemed to resolve to use the incident to apply psychological pressure on Gibernau. He is said to have sworn that after the Qatar race, which Gibernau won while Rossi crashed out after rising to 6th position, he would do everything to make sure that Gibernau never stood on the highest step of the podium again. Gibernau retired from Grand Prix racing after an unsuccessful, injury blighted 2006 season with Ducati and he never won another race after Qatar, prompting some in the Spanish and Italian motorcycle racing media to explain this fact by way of reference to the "Qatar Curse."

In 2007, Casey Stoner emerged as a rival for Rossi. Coupled with a Ducati, the young Australian won the first race of the year, followed by many more victories resulting in his claiming of the 2007 MotoGP World Championship title. Stoner's and Rossi's rivalry came to a dramatic climax at Laguna Seca Raceway in 2008. After numerous position changes, Rossi overtook Stoner at The Corkscrew. The bold move caused Rossi to run into the dirt and broken pavement on the inside of the right turn, and his rejoining the track came close to causing a collision between the two riders. A few laps later, Stoner went into the gravel on the slow entry into turn 11. Stoner picked up his bike to finish second, while Rossi took the win. After this, Casey Stoner made the comment, "I have lost respect for one of the greatest riders in history." For the comment, Stoner apologised to Rossi at the next race.

In 2008, Jorge Lorenzo joined Rossi in the factory Yamaha Motor Racing team, which started a new rivalry. After some great battles in 2009 where Lorenzo went toe-to-toe with Rossi, 2010 saw Lorenzo dominate throughout the season and won the championship by amassing 383 points, the highest points tally in history.

Nicknames

Valentino Rossi has had numerous nicknames during his racing career. His first prominent nickname was "Rossifumi." Rossi explained the etymology of this nickname as a reference and tribute to fellow rider Norifumi Abe.

His next nickname appeared some time around his days racing in the 250 cc World Championship. The nickname "Valentinik" was a reference to the Italian Donald Duck superhero, "Paperinik".


Since his dominance in 500 cc and MotoGP, Rossi has used the nickname "The Doctor." This has been attributed to his "cold and clinical dismantling of his opponents" as well as his cool and calm composure in racing compared to his frenetic days in 125 cc and 250 cc where his performance was erratic and dangerous, resulting in numerous crashes. Two theories prevail as to why Rossi uses "The Doctor." One is that Rossi adopted the nickname upon having earned a degree, which in Italy entitles one to use the title "Doctor". Another, as spoken by Graziano himself, "The Doctor because, I don't think there is a particular reason, but it's beautiful, and is important, The Doctor. And in Italy, The Doctor is a name you give to someone for respect, it's very important, The Doctor... important". Rossi often jokes, however, that the name arrived because in Italy, Rossi is a common surname for Doctors.

He has always raced with the number #46 in his motorcycle grand prix career. Rossi has stated that the original inspiration for this choice of number was the Japanese "wild card" racer Norifumi Abe whom he saw on television speeding past much more seasoned riders in a wet race. He later found out that it was the number his father had raced with in the first of his 3 grand prix career wins, in 1979, in Yugoslavia, on a 250c Morbidelli. Typically, a World Championship winner is awarded the #1 sticker for the next season. However, in a homage to Barry Sheene, who was the first rider of the modern era to keep the same number (#7), Rossi has stayed with the now-famous #46 throughout his career, though as the world champion he has worn the #1 on the shoulder of his racing leathers.

The text on his helmet refers to the name of his group of friends: "The Tribe of the Chihuahua," and the letters WLF on his leathers stand for "Viva La Figa," Italian for "Long Live Pussy." He has so far escaped any sanctions or ultimatums that he remove the letters because the "W" in "WLF" represents the two "V"s in "ViVa". Equally obvious is his success at escaping any disciplinary action from the FIM or Dorna for having the letters so brazenly on the front neck area of his leathers. He traditionally also incorporates his favorite color (fluorescent yellow) into his leather designs. This has also earned him the nickname 'Highlighter Pen' more recently. It is most commonly used by commentators Toby Moody and Julian Ryder.
Fellow motorcycle racer and former team mate Colin Edwards, as well as some TV journalists, have often referred to him as 'the GOAT' (Greatest of all Time).

Pre-ride rituals

Rossi is very superstitious and is renowned for his pre-ride rituals. On a race day, he will always watch the beginning of the 125cc race to see how long the starting lights remain lit before going out at the start of the race. Prior to riding (whether racing, qualifying, or practice), he will start his personal ritual by stopping about 2 metres from his bike, bending over and reaching for his boots. Then, when arriving at his bike, he will crouch down and hold the right-side foot-peg, with his head bowed. In an interview, Rossi said "It’s just a moment to focus and ‘talk’ to my bike, like moving from one place to the next." He adjusts the fit of his leathers by standing straight up on the foot-pegs, whilst riding down the pit-lane before the start of race or practice. He also revealed in an interview with MotoGP.com that he always puts one boot on before the other, one glove on before the other, and he always gets on the bike the same way. He also gets off the bike in the same way, swinging his right leg over the front of the bike.

sumber